Pindah enggak pindah enggak pindah?

Beberapa hari ini teman-teman di kantor sedang kasak-kusuk membicarakan gossip bahwa kantor mau pindah tempat, selama ini kita sudah hampir 5 th sewa space di Nugrasantana Sudirman, eh kemudian dari boss ada ide mau beli satu space di City Loft Sudirman biar nggak nyewa2 space kantor lagi maklum overtime mahal....
Dan Sontak kita semua jadi berangan-angan ngantor di apartemen hehehe... biar lebih kecil tapi nggak nyewa lagi dan nggak kena charge overtime kalau lembur-lembur terus...

kira-kira jadi nggak ya?

                            

I Hate This

I Hate this....
Akhir-akhir ini aku nggak fokus banget, nggak tau nih pikiran lagi kemana, kerjaan-kerjaan kantor banyak yang miss dan wasting time...  mungkin saatnya take a break sedikit ya... bikin sesuatu yang bikin fresh otak kita... ada ide nggak?

Indonesian Comics: Quick Komik Queries with: Agung 'Komikaze'



Indagung_che_2

Agung 'Komikaze' is a comic artist, illustrator and web designer. We caught up with him at the 'PKAN 4' Indonesian National Convention of Comics and Animation, in Yogyakarta, Indonesia.

John Weeks: Komikaze is a website for Indonesian comics?

Agung Komikaze: Yes, I think so; but it's not only Indonesian comics but it can be local underground comics too.

JW: When did you start Komikaze ?

AK: I start Komikaze as a project beginning from 1999.

JW: Wow. And how has it been received?

AK: ...beginning first with a small komik. Referendum about East Timor. After that in 2000, I start to do the website and focus on the medium. So the focus is, yes, independent media.

JW: There are not many Indonesian comics websites. Is it difficult to do?

AK: It's not so difficult. I learn by myself, and just...GO.

JW: You also done komiks of your own. Does the website take time away from that?

AK: Not really. I'm still doing print komiks. Just go on internet and write something, do something...

JW: I've seen Haram Jadah [a comics commentary magazine] and also 'Drop Out For Beginners'. You've also appeared in Daging Tumbuh ['Diseased Tumor'] and Blank Magazine. When did you start doing underground small press komiks?

AK: I start making komiks in high school for fun, and I distribute to close friends.

I start making self-published underground komiks from 1988. I start with some friends who have some ideas...

We look at komik as a medium, not just a project. We can express our thought, we can express our art sense, like that.

JW: Have you gone to art school? I notice 'School is Dead' - this reflects your thoughts on school? Can you tell us how this title came to be?

AK: I was in Gadjah Mada University, I took sociology.

JW: So you are a 'Komik Sociologist'.
(Laughter)

AK: Yep! But ah, I never finished my college. I go to art school too, I study graphic design for one year.

In college I have activity in journalism - college magazine from 1994 to 1998.

JW: And now 'School is Dead'?

AK: It's just a reflection about what's going on in Indonesia right now, school is very expensive, not many can access the education. I think Indonesia needs to make education cheap. For everybody.

JW: You've been doing seminars at this [PKAN 4] convention - 'School is Dead', but teaching is free. And you also produce teaching texts: Che Guevara for Beginners. Can you tell us about that?

AK: I have friends from NGOs , very interested in alternative published books; left issues. I just help them to publish, this book came out this year. The convention is announcing it [the release].

JW: Always good to have a new book for the convention!

This interview was taken form www.silverbulletcomicbooks.com
Read the original here: http://www.silverbulletcomicbooks.com/smallpress/107096198710775.htm

MY MONSTERIUS

hey this is my personal artwork, .... enjoy!! :) i call this monsterius!
please visit my personal gallery on http://deadschool.deviantart.com for complete artwork

Monsteriusweb_1

THE DAGING TUMBUH: THE MAGIC OF PHOTOCOPY

Agung Komikaze
artikel untuk Majalah Matabaca edisi komik, Juli 2005

Yogyakarta menjelang akhir 90an adalah masa-masa yang menggairahkan bagi tumbuhnya komik-komik underground atau juga dikenal akrab sebagai komik fotokopian. Saya masih ingat nama core comic dan apotik komik yang dipelopori mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sempat menginspirasi tumbuhnya komik-komik fotokopian yang serupa. Saya yang terbiasa membaca komik-komik jepang, dan yang paling populer waktu itu adalah Kung Fu Boy menganggap komik-komik semacam itu hanya komik main-main dan iseng belaka. Seperti halnya pembaca-pembaca awam lainnya, komik ya harus bagus gambarnya dan ceritanya menghibur. Itulah kesan yang saya tangkap pertama kali membaca kompilasi Core Comic yang dibawa teman saya. Dalam hati, saya heran komik yang dibikin oleh mahasiswa-mahasiswa ISI kok malah gambarnya amburadul banget, padahal kan mereka seharusnya jago menggambar. Begitu pula pameran dan diskusi yang membahas fenomena komik fotokopian pun makin sering digelar di Yogyakarta. Jumlah eksemplar yang sedikit dan distribusi yang sangat terbatas membuat saya kesulitan mencari komik-komik nyleneh tersebut, tetapi anehnya makin lama makin membuat saya penasaran dengan komik-komik tersebut. Bahkan ketika saya mendapatkan satu kopian komik tersebut rasanya jauh lebih puas daripada membeli komik Kung Fu Boy di toko Gramedia sekalipun. Gila men! ada apa dengan komik-komik ini. Bahkan gerakan komik-komik fotokopi tersebut juga membuat saya terdorong membuat komik sendiri dan menerbitkannya sendiri dengan mesin fotokopi. Sejak saat itu saya ngefans dengan para artist komik fotokopian seperti Samuel Indratma, Bambang Toko, Popok, Arie (Apotik komik), Beng Rahadian, Nano Warsono, Ones (Teh Jahe), Athonk (Pure Black), dan kelompok Taring Padi yang rata-rata mereka semua mahasiswa-mahasiswa ISI. Saya tidak mengenal mereka secara pribadi tapi melalui karya komik mereka.

Setelah beberapa lama para komikus tersebut mulai vakum menerbitkan komik baru hingga pada Agustus tahun 2000 saya membaca Aikon sebuah media kebudayaan yang dibagikan gratis, sampul depannya memuat sebuah gambar mirip kaleng atau buntelan daging kemasan bergambar buah-buahan bertuliskan “segar” dan “daging tumbuh” dengan warna hijau segar dominan di latar belakangnya. Setelah saya buka lebih dalam tertulis sampul muka adalah cover komik kelompok komik Daging Tumbuh volume 1 juni 2000. Saat itu saya belum kenal seperti apa isi si Daging Tumbuh ini, tapi nama Segar dan Daging Tumbuh sendiri benar-benar telah terekam dan mengganggu otak saya. Beberapa bulan kemudian (November 2000) Aikon memuat tulisan tentang komik alternatif anak-anak Yogyakarta dan salah satunya Daging Tumbuh dengan nama Eko Nugroho sebagai pentolan kelompok ini. Tapi tetap saja saya kesulitan mencari produk Daging Tumbuh yang belakangan saya tahu edisi 1 bertitel Segar ini diterbitkan dengan jumlah yang tidak lebih dari 25 eksemplar. Ketertarikan saya makin menjadi-jadi hingga pada bulan Mei 2001 sebuah hajatan komik indie berjudul Kabinet Komik Indie diselenggarakan di Gelaran Budaya Yogyakarta. Pada acara ini seolah kehausan saya terhadap komik fotokopian terpenuhi, puluhan komik fotokopian digelar dan disinilah saya menemukan Daging Tumbuh yang ternyata sudah terbit 2 edisi mau menginjak ke edisi 3. Saya juga bertemu dengan para artist komik fotokopian (juga disebut komik indie) yang selama ini saya kagumi, termasuk Eko Nugroho yang kelak dikenal sebagai The Eko Nugroho. Ketika melihat kompilasi Daging tumbuh ini saya terkesima dengan keliaran-keliaran isinya, sangat berantakan semaunya sendiri, vulgar campur aduk, dan melihat ketebalan kompilasi ini yang mencapai hampir 200 halaman tentu terlihat lebih gemuk dibanding komik-komik indie lain yang rata-rata berisi 20 – 80 halaman saja. Sampul depan digarap dengan serius dari pilihan jenis kertas dan eksplorasi cetak sablon membuat taste yang unik dan beda dibanding komik indie lain yang jumlah halamannya sedikit dan sampulnya juga digarap seadanya. Saya menangkap kesan sebuah karya yang hancur-hancuran mendekonstruksi aturan baku komik tapi dikemas serius, ya... anak-anak ini memang serius untuk hancur!


The Eko Nugroho
Daging Tumbuh tidak bisa lepas dari nama Eko Nugroho, sosok perupa muda masih kuliah di jurusan seni lukis ISI yang menggagas terbitnya komik Daging Tumbuh serta mengangkat dirinya sendiri sebagai Presiden Daging Tumbuh. Jika ingin memahami Daging Tumbuh kita harus juga memahami isi otak manusia bernama Eko Nugroho ini. Saat bertemu dengan Eko pertama kali, bayangan yang selama ini ada di kepala saya sebelum bertemu dengannya buyar. Saya dulu membayangkan sosok Presiden Daging Tumbuh ini adalah seorang seniman sangar berambut gimbal berpakaian kumal dan tidak pernah mandi, pokoknya identik dengan yang brutal-brutal deh. Begitu saya bertemu dengannya semua bayangan tadi buyar, saya menemukan sosok biasa-biasa saja agak nylekuthis, tidak ganteng, tidak gondrong, suka senyum-senyum, sopan, ramah, suka bercanda, suka pakai kaos oblong dan celana training. Lebih surprise lagi mahasiswa seni lukis ISI angkatan 97 ini sudah punya istri dengan dua anak dan sangat mencintai keluarganya melebihi cintanya terhadap Daging Tumbuh.

Berawal dari pertemuan di Kabinet Komik Indie, intensitas pertemuan saya dengan Eko Nugroho mulai meningkat. Tak lama setelah acara itu Kompilasi edisi 3 Daging Tumbuh berjudul “Menggergaji Es Jeruk” terbit setelah edisi 1 “Segar” dan edisi 2 “Presiden vs Komik” terbit lebih dulu. Saya mulai mengenal beberapa seniman di komunitas Daging Tumbuh yang rajin menjadi kontributor seperti Wedhar Riyadi, Codit, Heri Cepuk, dan Surajiya. Nama Daging Tumbuh pun mulai dikenal di kalangan komunitas komik dan seni rupa di Yogyakarta. Fleksibilitas Eko Nugroho dalam membangun jaringan dengan beberapa kalangan dari komunitas seni di Yogyakarta semakin memperkaya nuansa Daging Tumbuh dengan hadirnya perupa-perupa sekelas Eddie Hara, Agung Kurniawan hingga Mela Jarsma terlibat jadi partisipan di beberapa edisinya.

Ketika menyiapkan edisi ke empat bertajuk “Sirkus” akhir tahun 2001 saya makin sering bertemu dengan Eko Nugroho ketika dia meminta saya menulis kata pengantar untuk edisi tersebut. Saya mulai mengenal lingkungan kehidupan Eko ketika bertandang di rumahnya. Eko waktu itu masih tinggal di sebuah kamar kontrakan kecil di kampung Prawirodirjan sebuah pemukiman padat di pinggiran sungai Code. Melewati gang-gang kecil berliku hingga saya harus menuntun motor untuk sampai ke kontrakannya. Di kamar kontrakan yang disekat menjadi ruang tamu dan kamar tidur dengan dapur kecil di sampingnya, Eko menyambut saya dengan ramah dan seperti biasa dengan canda dan ketawanya. Mbak Mita istri Eko Nugroho menyiapkan segelas teh manis panas kami bercengkrama sambil sesekali Eko bercanda dengan dua anak perempuannya yang berseliweran di pangkuan bapaknya. Kampung Prawirodirjan adalah tempat Eko Nugroho tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat kelas bawah pinggiran sungai Code. Eko menemukan banyak ide dan inspirasi dari kehidupan lingkungan tempat dia tinggal. Selain kuliah dan menjadi kepala keluarga, Eko sejak dulu suka menggambar kartun dan karyanya beberapa kali dimuat di majalah humor. Selain itu Eko sempat mengajar menggambar di Yakkum tempat rehabilitasi anak-anak penyandang cacat kemudian menjadi ilustrator lepas untuk penerbitan buku dan beberapa media kebudayaan. Kesibukan-kesibukan dan rutinitas sehari-harinya tidak mengurangi intensitas kerja seninya. Eko masih melukis, membuat drawing, membuat komik dan menjadi seniman mural terlibat dalam beberapa proyek seni mural di Yogyakarta. Bagi Eko kerja seni adalah sebuah bentuk komunikasinya dengan publik. Saya ingat ketika kami dengan senang hati melukis dinding-dinding sekolah TK di pelosok desa Magelang atas undangan mahasiswa KKN di sana. Eko menikmati pekerjaan seni publiknya dengan tulus dan apa adanya, cukup dengan segelas the manis, gorengan dan makan siang maka semua akan happy-happy saja. Semakin banyak orang yang merespon seni publiknya (mural) semakin mengasikkan begitulah dia menikmati kerja seninya.

Gagasan awal terbitnya Daging Tumbuh pada mulanya adalah berawal dari kegelisahan mahasiswa senirupa ISI yang ingin sekali berpameran tapi tidak mampu mengakses ruang-ruang pameran di galeri. Eko menawarkan konsep galeri kertas bernama Daging Tumbuh, yang tak lain adalah ruang pamer bagi mahasiswa senirupa tersebut untuk berekspresi dan memamerkan karyanya. Beberapa partisipan tersebut masing-masing iuran untuk biaya produksi edisi pertama kemudian hasil penjualan edisi pertama akan digunakan untuk biaya produksi edisi 2 dan seterusnya tiap edisi akan mensubsidi edisi berikutnya. Daging Tumbuh akhrinya berkembang dengan menerima partisipan secara lebih luas, bagi siapa saja yang ingin berkarya silahkan mengirim karyanya yang sudah difotokopi plus iuran produksi. Kegigihan Eko untuk menerbitkan Daging Tumbuh secara rutin tiap 6 bulan adalah nyawa kelangsungan Daging Tumbuh. Berbagai cara dilakukan Eko agar Daging Tumbuh bisa terbit, selain hasil penjualan edisi-edisi sebelumnya dan iuran para partisipan, Eko juga sanggup membangun jaringan donatur yang tertarik dengan keunikan Daging Tumbuh untuk membiayai ongkos produksi tiap edisinya. Eko bahkan berteman akrab dengan operator mesin fotokopi yang dia panggil mas sumo karyawan sebuah copy center di Yogyakarta tempat Daging Tumbuh digandakan. Hingga saat ini (2005) telah terbit sampai edisi 10. Sebuah perjalanan panjang selama 5 tahun menjaga kontinuitas terbit Daging Tumbuh di sela-sela kesibukannya sebagai suami dan ayah dua anak. Nama Daging Tumbuh pun melesat menjadi ikon komik underground bersama Eko Nugroho.

The Daging Tumbuh
Melihat dari awal terbitnya hingga mencapai edisi 10, tentu bukan hal yang mudah sebuah buku kompilasi sanggup bertahan. Edisi-edisi awal Daging Tumbuh adalah edisi-edisi favorit saya karena orisinalitas semangatnya. Pada Edisi-edisi awal ini saya melihat semangat seni rupa yang kental mengambil medium yang identik dengan komik. Mau tak mau Daging Tumbuh disejajarkan dengan komik-komik underground pendahulunya seperti Core Comic dan Apotik Komik, meski konsep Daging Tumbuh sendiri adalah galeri kertas. Pengakuan Daging Tumbuh justru terlebih dahulu muncul di komunitas komik indie Yogyakarta. Konsistensi Daging Tumbuh sebagai galeri kertas pun akhirnya diakui di kalangan komunitas seni rupa. Daging Tumbuh dan Eko Nugroho akhirnya sering mendapat kesempatan berpameran, salah satunya di Biannale Seni Rupa di Gedung Taman Budaya pada pertengahan 2004 lalu.

Proses kerja dan spirit penerbitan Daging Tumbuh yang saya ikuti sejak edisi awal hingga yang terakhir adalah sebuah proses pembentukkan karakter, idiom bahkan ideologi yang secara tidak sengaja mengalir dan terbentuk begitu saja tanpa ada pretensi apa-apa keculai semangat bermain-main yang dihidupkan oleh sang Presiden Daging Tumbuh sendiri. Dalam proses tersebut akhirnya Eko menemukan mesin fotokopi sebagai basis ide kreatifnya. Pada akhirnya Daging Tumbuh identik dengan Eko Nugroho sekaligus identik juga dengan mesin fotokopi. Bahkan Eko sempat menggelar Daging Tumbuh Award untuk karya-karya yang dihasilkan dengan reproduksi mesin fotokopi. Bagi komik-komik indie lain mesin fotokopi mungkin hanya dipandang sebatas alat untuk menggandakan saja, tapi bagi Daging Tumbuh fotokopi adalah pusat kesadaran bahkan mungkin sebagai sebuah ideologi dalam berkreasi.

Saya lebih memahami Daging Tumbuh dengan ideologi fotokopinya sebagai sebuah permainan untuk menjungkirbalikkan apa yang selama ini dimapankan oleh sistem. Persoalan hak cipta, logika pasar, bahasa-bahasa baku semuanya diobrak-abrik tanpa beban oleh Daging Tumbuh. Nama Daging Tumbuh yang identik dengan penyakit dan sedikit berkonotasi menjijikkan menjadi lazim diucapkan sebagai bentuk karya seni. Saya tidak begitu paham teori-teori mutakhir filsafat, seni rupa, bahkan semiotika untuk menganilisis fenomena ini tapi setidaknya Daging Tumbuh berhasil mempermainkan makna bahasa yang sudah baku menjadi makna baru. Bukan hanya pembentukan makna baru tetapi menihilkan rangkaian kalimat menjadi absurd tanpa makna, seperti tema “Menggergaji Es Jeruk”, “Tendangan Maut Nanas Muda”, “Merobohkan Kelenjar Hari Libur” bahkan dengan enaknya mereka mengejek nama-nama band terkenal luar negeri yang sedang ngetrend diikuti band-band Indonesia berawalan the (the doors, the beatles dll) dengan cara mengadopsi untuk nama mereka sendiri menjadi The Daging Tumbuh, The Eko Nugroho, The Paijo, The Mulyono dst. Proses main-main inilah yang membentuk struktur pemaknaan baru yang khas Daging Tumbuh. Menikmati Daging Tumbuh adalah bukan hanya menikmati sebuah kompilasi seni visual (komik?) dalam bentuk buku tapi sekaligus menikmati idiom-idiom baru, plesetan makna, kebebasan bermain-main dan berkreasi di luar isi kompilasinya sendiri.

Daging Tumbuh hanya dicetak sebanyak 200 eksemplar saja dan dipersilahkan untuk dibajak bagi mereka yang kehabisan. Bahkan mereka yang mau membajak boleh membeli sampul aslinya selama persediaan masih ada. Eko tidak akan mencetak lebih dari 200 buku meski tiap edisi Daging Tumbuh pasti sold out! Mekanisme distribusinya pun dengan cara independen lewat distro, pameran komik, dari tangan ke tangan, bikin acara launching bahkan saya bersama Eko and his gank sempat mengasongkan Daging Tumbuh di pinggir jalan boulevard UGM, waktu itu dari hasil mengasong Daging Tumbuh cuma laku dua biji itu pun yang beli ibu-ibu berjilbab dan bapak-bapak tua, mungkin mereka kasihan atau takut ada orang gila teriak-teriak jualan Daging Tumbuh!

Hal lain yang juga ditunggu-tunggu oleh penggemar Daging Tumbuh yang dinamai oleh Eko sebagai the lendir (sebutan bagi pembaca daging tumbuh) adalah merchandise Daging Tumbuh yang menyertai setiap terbitannya. Barang-barang merchandise tersebut hebatnya adalah juga partisipasi dan support dari mereka penikmat Daging Tumbuh. Mereka rela mencetak stiker, kartu pos, membuat pin, membuat mainan anak-anak untuk disisipkan sebagai merchandise Daging Tumbuh. Saya kadang heran dan takjub kok mau-maunya mereka keluar uang membuat barang-barang itu untuk disisipkan. Bahkan ada yang mau repot membuat rokok sendiri sebagai merchandise dengan nama “rokok penghancur paru-paru sangat cocok untuk penderita asma”, dan lebih sadis lagi mereka yang membeli daging tumbuh rela dibilang dungu oleh Eko, bagaimana tidak? Di kemasannya tertulis “Hei Dungu!! Ada merchandise di dalam!

Cara Daging Tumbuh memandang, mengejek dan mempermainkan struktur dan relasi makna yang sudah baku membuatnya memiliki logika dan cara berkomunikasi sendiri. Daging Tumbuh tidak butuh laku ribuan eksemplar, tidak butuh keuntungan finansial, tidak butuh membayar para kontributornya (bahkan para kontributor yang membayar iuran ke Daging Tumbuh), Daging Tumbuh berhasil membangun komunitasnya sendiri meski masih terpusat pada figur seorang Eko Nugroho yang menjadi jangkar bagi para partisipan-partisipan Daging Tumbuh. Mereka sering bekerjasama dengan Eko Nugroho dalam proyek seni Daging Tumbuh di luar penerbitan rutin. Proyek mural dan pameran instalasi adalah salah satu pelebaran kegiatan seni dari kelompok yang berbasis dari sebuah penerbitan kompilasi bernama Daging Tumbuh ini. Saya berpikir Daging Tumbuh punya potensi berkembang menjadi sebuah kantung seni budaya jika komunitas ini terus berkembang dan Eko Nugroho sanggup memfasilitasi Daging Tumbuh bukan hanya sekedar memproduksi buku kompilasinya tapi melebarkan ke wilayah-wilayah ekspresi seni lainnya. Sejauh ini Eko sudah cukup membangun kerjasama dengan partisipan-partisipan di luar seni rupa untuk terlibat. Pada edisi 3, Daging Tumbuh bekerja sama dengan beberapa musisi eksperimental dan menelorkan album soundtrack Daging Tumbuh yang menyertai penerbitannya dalam bentuk kaset. Begitu juga pada edisi 9 Daging Tumbuh bekerjasama dengan beberapa band indie membuat album kompilasi melibatkan tiga kelompok band (Sameoldshit, The Manyoones dan The Harmonic Orchestra) yang disertakan sebagai bonus edisi tersebut dalam bentuk CD.

Dari sini saya bisa melihat Daging Tumbuh bukan hanya sekedar kompilasi tapi bisa berkembang menjadi sindikasi ekspresi seni di luar mainstream. Jika kita mengikuti dari edisi ke edisi banyak sekali iklan-iklan di Daging Tumbuh yang diisi dari kelompok band, distro, zine, kelompok pekerja desain, clothing sampai penerbit alternatif. Daging Tumbuh tidak menerima uang untuk pemasangan iklan, cukup barter produk atau barter iklan dan hanya mereka yang bergerak independen yang bisa memasang iklannya di Daging Tumbuh. Proses interaksi seperti inilah yang membuat Daging Tumbuh memiliki captive marketnya sendiri.


The Magic of Photocopy
Daging Tumbuh identik dengan fotokopi, sebuah mesin yang mungkin selama ini hanya dianggap sebagai alat pengganda dokumen dalam bentuk kertas. Pada awalnya mesin ini hanyalah pengganda yang praktis untuk menerbitkan Daging Tumbuh daripada dengan teknik cetak sablon atau offset, tetapi kemudian konsep seni reproduksi fotokopi menjadi trade mark bagi Daging Tumbuh. Fotokopi sudah menjadi seni di tangan Eko Nugroho dan menerapkannya sebagai bentuk ekspresi yang masih bisa dieksplorasi lebih jauh lagi. Daging Tumbuh telah menjadi media bagi seni fotokopi itu sendiri. Jika saya mengamati perkembangan Daging Tumbuh beberapa edisi terakhir sangat terasa penekanan pada eksplorasi seni menggunakan mesin fotokopi. Saya melihat Daging Tumbuh sudah berkembang sebagai seni fotokopi dan seni buku, meski citranya sebagai komik underground atau pun komik seni diakui di beberapa kalangan komunitas komik.

Lebih jauh lagi saya ingin melihat bahwa mesin fotokopi adalah sebagai salah satu faktor distribusi pengetahuan yang praktis dan murah bisa dijangkau oleh siapa saja. Hal inilah yang mendasari Eko Nugroho ketika melihat begitu banyaknya pusat pelayanan fotokopi di kota Yogyakarta dan menggunakannya sebagai alat penerbitan Daging Tumbuh. Mesin Fotokopi telah menjadi agen penyebaran pengetahuan dimana sudah ribuan sarjana dihasilkan dengan teknologi fotokopi yang melayani pengkopian literatur, skripsi, thesis, bahkan catatan-catatan kuliah menjelang ujian. Selama ini kita hanya menyadari mesin fotokopi hanyalah salah satu alat untuk mengakses pengetahuan seperti buku-buku teks yang harganya relatif mahal untuk bisa dinikmati dengan biaya relatif murah melalui mesin fotokopi. Kita masih belum tergerak untuk memproduksi sistem pengetahuan kita sendiri melalui cara mereproduksinya dengan mesin fotokopi. Apa yang sudah dihasilkan Daging Tumbuh bukan hanya sekedar eksplorasi seni dengan medium mesin fotokopi tapi juga keberaniannya membangun sistem pengetahuannya sendiri dengan menjadi penerbit independen.

Saya kira Daging Tumbuh tidak punya tendensi apa-apa jika ditempatkan dalam peta gerakan komik di Indonesia. Daging Tumbuh hanya bermain-main dan menciptakan dunianya sendiri, terserah orang mau bilang apa yang jelas fotokopi lebih baik daripada perang! Begitulah bunyi salah satu slogan Daging Tumbuh. Bisa jadi slogan tersebut hanya sekedar main-main saja tapi itulah cerminan sikap Daging Tumbuh. Mereka menolak hegemoni mainstream dengan caranya sendiri.

Apakah Daging Tumbuh masih bisa terus menjaga semangatnya, saya jadi teringat sang Presiden Daging Tumbuh empat tahun lalu di kontrakan kecilnya di pemukiman pinggiran sungai Code, sekarang kami sama-sama sibuk sehingga sudah jarang sekali bertemu. Terakhir saya mengontaknya via internet.... apa kabar mas presiden? Dia masih ramah menjawab...”Aku lagi golek upo nang Amsterdam” (Aku sedang mencari sesuap nasi di Amsterdam), saya hanya tersenyum ....wah mas Presiden Daging Tumbuh sedang berkunjung ke luar negeri,... it’s the magic of photocopy!

artikel ini bisa juga diakses di:
http://komikaze99.multiply.com
http://www.akademisamali.org

BUNG TEGAR... hidup itu seperti roda berputar

Saya mempunyai seorang teman, ya sebut saja bung Tegar (ini nama samaran...), semoga beliau tidak keberatan namanya saya ganti. Saya banyak belajar dari bung Tegar soal hidup dan cara dia menghadapi hidup. Dia memang bukan siapa-siapa tapi bagi saya pencapaian dan sikap hidupnya membuat saya memahami apa arti keikhlasan hati menerima segala macam kenyataan dalam hidup. Bung Tegar sadar dirinya juga bukan manusia sempurna, dia menerima ketidaksempurnaan sebagai hal yang manusiawi tanpa harus kehilangan kepercayaan dirinya. Kita semua pasti pernah bertindak bodoh dan membuat kesalahan, tapi kadang kita berusaha melempar kesalahan-kesalahan kita sendiri sebagai akibat kesalahan yang diperbuat orang lain. Kemudian kita menciptakan prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain dan menghakimi orang lain serta memelihara dendam dan kebencian di dalam diri kita sendiri.

 

Bung Tegar pernah bilang bahwa kebencian dan dendam yang kita pelihara justru membuat hidup kita tidak pernah merasa nyaman. Bung Tegar selalu berusaha menjaga perkataan dan berhati-hati dalam bicara. "Mulutmu, Harimaumu", begitulah kenapa dia sangat berhati-hati menjaga tutur katanya meski suatu kali karena kesalahan yang tidak disengaja dia pernah dimaki-maki orang dengan kasar. Bung Tegar mencoba tersenyum meski hatinya sakit sekali dimaki-maki dengan kata-kata kasar. Bung Tegar tidak pernah membalas orang itu dengan balik memaki dengan kata-kata kasar. Bung Tegar menahan rasa sakitnya sendiri, tetapi yang paling susah adalah untuk tidak membenci orang yang telah menyakiti hatinya. Sebagi muslim Bung Tegar percaya bahwa berdialog dengan Tuhan adalah obat mujarab menghilangkan rasa benci dan dendam menjadi kelapangan hati dan keikhlasan. Masjid adalah tempatnya berkeluh kesah kepada sang pencipta dalam tiap gerak dan lafal doa yang mengiringi sholatnya.

 

Ya... roda kehidupan terus berputar. Bung Tegar pernah dihina dan direndahkan ketika masih susah hidupnya, tapi Bung Tegar tak pernah dendam dan benci karena hidup itu seperti roda yang berputar, ketika kita di bawah, kesabaran kita diuji begitu juga ketika di atas, jangan semena-mena dengan saudara-saudara kita yang di bawah apa pun itu mereka manusia jangan direndahkan harga diri dan martabatnya. Bung Tegar pernah merasakah bagaimana sakitnya diinjak-injak harga dirinya tetapi dia tetap ikhlas, memang luka di hati itu bisa sembuh tapi bekas-bekasnya bisa mengingatkan betapa perihnya luka itu. Syukurlah sahabat saya ini taraf kehidupannya sudah membaik, dan yang saya suka, dia tidak pernah membalaskan sakit hatinya meski orang-orang yang dulu menyakitinya sekarang berganti terpuruk di bawah, tapi salut Bung Tegar malah mengulurkan tangannya untuk membantu orang-orang yang dulu menyakitinya. Ketika saya bertanya dia hanya menjawab,...memelihara kasih sayang dan keikhlasan itu membuat dunia menjadi lebih indah untuk dihuni daripada memelihara dendam dan kebencian. Hmmm... iya juga ya?

Jakarta 24 Hour Comic Day

Hari sabtu tanggal 7 Oktober lalu, Jakarta (bersama Bandung dan Surabaya) berpartisipasi dalam acara yang digelar serentak di beberapa kota seluruh dunia bertajuk 24 Hour Comic. Aku pertama kali tahu setelah dapat SMS dari Beng Rahadian beberapa hari sebelum pelaksanaan. Sangat menarik, tapi sayang aku sempet lupa tanggal pelaksanaan karena kesibukan di kantor dan sms dari Beng terhapus di handphone aku. Minggu pagi jam 4 (habis sahur) aku baru inget ketika di rumah warna aku tanya si dukun kemana, eh anak-anak bilang ke mampang ikut 24 hour comic day, wah sontak saat itu juga aku langsung jalan bareng ari, Faisal dan aris ke rumah Beng  yang jadi lokasi acara. Kebetulan jarak Rumah warna dengan Kediaman Beng n Lulu nggak jauh-jauh amat, jadi kita jalan kaki Pancoran-Mampang. Lumayan segar pagi-pagi subuh jalan-jalan sampai mampang.

Sampai di lokasi aku langsung naik ke kamar Beng, ternyata di sana ada Injun, Mas Wid, Arip Jengkol yang sedang sibuk menscan beberapa gambar yang udah jadi dan siap diupload ke internet. Sementara peserta di ruang bawah terlihat sebagian besar sudah terlelap dan hanya beberapa orang yang masih sibuk menyelesaikan komik nya. Si Beng aku cari-cari ternyata juga sudah tidur setelah menyelesaikan komik nya  jam 4 pagi. Zarki terlihat menyerah tidak bisa menyelesaikan komiknya.

Aku lihat temen-temen dan panitia sudah agak kepayahan karena hampir nggak tidur selama 24 jam (acara ngomik dimulai sabtu jam 7 pagi berakhir minggu jam 7 pagi), akhirnya aku putuskan take over tugas uploading gambar ke web  http://komik24jam.multiply.com  sebagai bagian dari gerakan serentak di seluruh dunia. Sementara official website nya berada di www.24hourcomics.com  yang berisi update acara dari seluruh lokasi di dunia. Bareng Arip Jengkol aku stand by di warnet daerah kemang untuk mengupload satu-satu gambar komik perserta yang sudah selesai. Mereka harus menyelesaikan 24 halaman komik dalam waktu  maksimal 24 jam, beberapa peserta berhasil dan beberapa gagal menyelesaikan 24 halaman tepat pada waktunya. Beberapa halaman belum selesai atau belom terscan membuat arip harus bolak-balik lokasi-warnet sementara aku tetap stand by di warnet. Menjelang jam 10 kiriman terakhir datang juga, Arip datang bersama Lulu Ratna yang juga membuat film doklumentasi untuk acara ini. Gambar-gambar terakhir pun segera diupload, Lulu menulis report untuk official web site pusat 24 hour comics.

Menjelang  jam 11 siang semua selesai, Aku, arip dan Lulu pulang ke rumah masing-masing...
Wow...meski cuman sebagai uploader gambar, senang bisa berpartisipasi di acara ini... mungkin tahun depan 24 hour comic day akan lebih seru lagi... semoga...  Good work Beng n akademi samali.

UPDATE ARTWORK TERBARU

Book_cover_design_by_deadschool

Cover_illustration_by_deadschool

Calendar_design_by_deadschool_1

Blending_emotion_by_deadschool

Complete Artwork click Dead School Gallery

Bidadari Tengah Malam

Puisi dan Cerpen terbaru gw Selengkapnya di

http://www.arixx.blogdrive.com

BIDADARI TENGAH MALAM

Malam sudah larut, rasa lelah dan kantuk membuatku begitu menikmati hangatnya kasur, bantal dan ranjang yang empuk. Pelan-pelan sepasang mataku mulai terasa sangat berat, sayup-sayup suara-suara merdu dari alam mimpi mulai memanggil-manggil seolah keluar dari bibir bidadari dan peri yang menghuni alam antah berantah tempatku berkunjung dalam lelap. Aku merasakan diriku sangat ringan seperti kapas yang terbang tertiup semilir angin, sebentar lagi aku akan bertemu para bidadari dan peri itu. Mereka begitu cantik dan manis kawan, ingin rasanya untuk tetap terlelap tanpa pernah terjaga untuk tidak kembali menghadapi penatnya pekerjaan sehari-hari yang membuat tulang-tulang dan badan ini makin rapuh dan reot. Samar-samar senyum para bidadari itu mulai membuatku masuk lebih dalam ke lorong kelelapan yang indah ini. Jari-jari tanganku berusaha menyentuh bibir merah yang merekah basah itu. Sejengkal lagi ujung jariku mengusap bibir basah dan membelai rambut hitam panjang lurus yang berkilauan tertimpa cahaya.... Tapi tiba-tiba kurasakan sesuatu seperti aliran listrik menyengat pusat kesadaranku, mataku terbuka mendadak dan bayangan bidadari-bidadariku lenyap tanpa bekas. Kurasakan badanku tak lagi seringan kapas dan rasa pegal di sekujur badan membuatku seperti seonggok besi besar dan berat yang sudah karatan di atas ranjang.

Aku terjaga, telepon genggam di meja berbunyi nyaring bergetar-getar. Dengan malas dan menggerutu kuangkat benda yang telah membuyarkan semua bidadari dan peri impianku ini. Kulihat sebuah nomor tak dikenal muncul di tampilan layar berwarna biru menyala-nyala.

“Halo....,” suaraku terdengar parau, sejenak hening beberapa saat sebelum terdengar suara perempuan menyapa.

“Selamat malam, maaf boleh kita ngobrol malam ini?”

“Oh, maaf ini siapa ya?”

“Bella.”

“Bella siapa ya?”

“Kamu siapa?” perempuan itu balik bertanya.

“Eee.. panggil saja Don” aku agak tergagap menjawabnya.

“Oke Don, aku hanya ingin bercerita banyak denganmu malam ini”

“Tapi maaf aku belum pernah mengenalmu Bella...”

“Aku juga sama sekali tak mengenalmu Don”

“Oh, tapi dari mana kamu tahu nomor ini?”

“Aku hanya asal saja menekan nomor dan kebetulan saja ini nomor milikmu” perempuan bernama Bella ini menjawab dengan enteng.

Dalam hati aku mulai menggerutu, dengan enaknya perempuan iseng ini menelpon dan membangunkanku dari mimpi indah bersama bidadari dan peri cantik, benar-benar sial. Aku mulai berpikir untuk tidak melayani perempuan iseng ini dan segera menutup telepon agar aku bisa kembali lelap untuk menemui para peri dan bidadariku. Kasihan, mereka pasti sudah menungguku sekarang ini.

“Oke deh Bella mungkin kamu bisa menghubungi nomor lain saja aku ngantuk” jawabku sekenanya.

“Don, tunggu...”

“Apa lagi?”

“Don, aku.. aku hamil...” suara itu mendadak menjadi lirih.

Sejenak aku kaget dan terhenyak beberapa saat.

“Hamil?” Aku tertegun.

“Aku dalam masalah berat, aku hamil tanpa suami.”

“Oooh...kenapa kamu cerita padaku?”

“Karena aku tak mengenalmu.”

Mendadak rasa kantukku yang begitu hebat hilang sama sekali, berganti rasa penasaran terhadap perempuan misterius yang bernama Bella ini. Aku sama sekali tak pernah membayangkan sebelumnya, terbangun tengah malam dan menerima telepon nyasar dari perempuan yang tidak kukenal sama sekali dan dengan tiba-tiba pula dia menceritakan masalah pribadinya tanpa basa-basi.

“Sudah berapa bulan kehamilanmu?” Aku coba bertanya.

“Satu setengah bulan.”

“Lantas apa rencanamu sekarang?”

“Aku sudah minta pertanggungjawaban laki-laki itu, tapi dia sama sekali tidak peduli bahkan keluarganya mengusirku, aku sangat-sangat kecewa.”

Kemudian dia bercerita tentang hubungannya dengan laki-laki itu. Perkenalan mereka diawali di sebuah klab malam. Laki-laki itu begitu hangat dan memesonanya, dia sendiri bercerita padaku bahwa dia pernah tidur dengan beberapa lelaki sebelumnya, bahkan pernah menjadi simpanan om-om yang doyan daun muda. Entah kenapa dia begitu terpikat dengan laki-laki yang ternyata masih anak kuliahan dan sanggup membuatnya tidak lagi tidur dengan laki-laki lain bahkan om-om kaya raya sekalipun.

“Kau mencintainya?”

Aku mendengarnya menghela nafas panjang, seolah beban yang ada di dadanya sekarang ini sangat-sangat menyesakkan.

“Hhhh dulu... tapi sekarang aku tak tahu lagi...” suaranya pelan dan tertangkap sebuah kegalauan dalam nada yang lirih dan putus asa.

“Bagaimana dengan orang tuamu?”

“Mamaku sedang sakit, sakit parah, aku tak ingin mamaku tambah sakit karena aku hamil begini”

“Papamu?”

“Papaku tidak akan menerima aku!” Nada suaranya mulai meninggi.

“Oooh....” aku seperti kehilangan kata-kata entah iba atau terkesima mendengarnya.

“Aku tak akan pulang ke orang tuaku lagi!” Suaranya bergetar menahan marah dan tangis.

“Kenapa?”

“Aku benci mereka...” kini suaranya datar tanpa emosi.

“Benci?” Aku semakin penasaran.

“Mereka membunuh adikku.”

“Membunuh?” Aku semakin terkejut.

“Waktu itu, adikku hamil tiga bulan”

Kemudian dia menceritakan betapa marah orang tuanya tehadap adiknya yang waktu itu masih sekolah di bangku smu. Dengan terbata-bata dia mencoba mengingat kenangan pahit itu. Aku mendengarnya kata demi kata seolah sedang menyimak sebuah pementasan monolog yang begitu getir. Suaranya bergetar menceritakan penderitaan adiknya ketika dipaksa menggugurkan kandungan oleh orang tuannya.

“Mereka memberikan arak cina yang sangat keras, adikku dipaksa meminumnya.... dan bayi itu lahir dengan panjang hanya 15 sentimeter.” terdengar sedikit isak tangis pedih di jeda kata-katanya.

Aku semakin hanyut dalam drama yang begitu mencekam dan menyedihkan.

“Kemudian nyawa adikku tidak tertolong lagi, sejak itu aku tak mau pulang ke rumah... aku benci mereka.”

Sejenak suasana hening setelah dia mengakhiri cerita sedih tentang adiknya. Malang sekali perempuan-perempuan ini. Mungkin di tayangan sinetron kita sudah biasa menyantap suguhan cerita-cerita pilu seperti ini. Sekarang aku merasakan cerita ini begitu dekat dan seolah sangat nyata hadir di depanku.

“Sekarang kamu dimana Bella?”

“Aku sekarang ada di hotel di

kota

kelahiran laki-laki yang menghamiliku”

“Apa yang kamu lakukan di sana?”

Kemudian dia kembali bercerita kalau semua ini dia lakukan agar laki-laki itu mau bertanggung jawab. Dengan uang pas-pasan dia menyusul laki-laki itu yang mendadak menghilang setelah mendengar kehamilannya. Laki-laki itu pulang ke kota kelahirannya dimana seluruh keluarganya tinggal.

“Tapi di sini aku benar-benar dikecewakan, mereka semua menolakku,” dia terdengar pasrah. “Biarlah kalau dia memang tak mau bertanggung jawab aku akan pergi kemanapun aku suka, dimana aku bisa membesarkan anakku.”

“Terus kamu mau makan apa? Apa kamu punya pekerjaan?”

“Tidak aku tidak punya pekerjaan apa pun, sampai detik ini uangku tinggal

lima

puluh ribu tidak cukup untuk ongkos pulang, mungkin hp ku akan kujual setelah selesai menelponmu.”

“Laki-laki itu bagaimana?”

“Dia hanya menaruhku di hotel ini dan meninggalkanku tanpa memberiku makan, tanpa menjengukku sekalipun... aku tak tahu harus bagaimana lagi.”

“Setelah ini kamu mau pergi kemana?”

“Aku masih punya teman di kota lain aku akan ke sana mungkin dia bisa menolongku.”

“Jika temanmu itu tak bisa menolongmu?”

“Aku akan menjual diriku pada laki-laki yang mau mengasihaniku.”

“Oooh..” Aku kembali tak bisa berkata-kata.

“Biarlah dosa ini aku tanggung sendiri dan demi anakku nanti aku akan bertahan.”

“Oooh..” Aku benar-bernar tak tahu harus bicara apa.

Mendadak hubungan telepon terputus, beberapa saat kutunggu ternyata dia tak menelponku lagi. Aku terdiam pikiranku menerawang kosong. Kumain-mainkan hp dalam genggamanku hingga akhirnya aku memutuskan untuk menelpon balik. Kuhubungi nomornya yang masih terekam di hp , beberapa kali kuhubungi ternyata nomor yang kutuju sudah tidak aktif lagi. Kuletakkan hp di atas meja dan kembali pikiranku menerawang mengingat pembicaraan telepon dengan perempuan yang bernama Bella beberapa saat yang lalu.

Menit demi menit berlalu hingga akhirnya rasa kantuk menyergapku untuk menikmati kembali hangatnya kasur, bantal dan ranjang yang empuk. Bidadari dan peri cantik kembali membayang dalam kantukku. Lambat laun aku terlelap dan merasakan badanku seringan kapas mengikuti angin. Pasti ini saatnya untuk kembali bertemu dengan bidadari dan peri cantik dalam lelap mimpiku. Samar-samar aku mulai melihat sosok bidadari-bidadari itu, makin lama makin jelas aku melihatnya. Ketika tubuhku melayang mendekat tiba-tiba jantungku seperti berhenti berdetak. Kulihat dua bidadari berambut panjang dengan muka yang pucat. Mata mereka kosong, bibir mereka tak lagi tersenyum. Bidadari itu memegangi perutnya yang membuncit seperti sedang hamil tua sedangkankan bidadari di sebelahnya menimang orok kecil tak bernyawa berlumuran darah dengan panjang tak lebih dari 15 sentimeter, darah menetes membasahi paha hingga betisnya.  Lagi-lagi aku hanya terpaku tak mampu bicara apa-apa.[..]