Puisi dan Cerpen terbaru gw Selengkapnya di
http://www.arixx.blogdrive.com
BIDADARI TENGAH MALAM
Malam
sudah larut, rasa lelah dan kantuk membuatku begitu menikmati hangatnya kasur,
bantal dan ranjang yang empuk. Pelan-pelan sepasang mataku mulai terasa sangat
berat, sayup-sayup suara-suara merdu dari alam mimpi mulai memanggil-manggil
seolah keluar dari bibir bidadari dan peri yang menghuni alam antah berantah
tempatku berkunjung dalam lelap. Aku merasakan diriku sangat ringan seperti
kapas yang terbang tertiup semilir angin, sebentar lagi aku akan bertemu para
bidadari dan peri itu. Mereka begitu cantik dan manis kawan, ingin rasanya
untuk tetap terlelap tanpa pernah terjaga untuk tidak kembali menghadapi
penatnya pekerjaan sehari-hari yang membuat tulang-tulang dan badan ini makin
rapuh dan reot. Samar-samar senyum para bidadari itu mulai membuatku masuk
lebih dalam ke lorong kelelapan yang indah ini. Jari-jari tanganku berusaha
menyentuh bibir merah yang merekah basah itu. Sejengkal lagi ujung jariku
mengusap bibir basah dan membelai rambut hitam panjang lurus yang berkilauan
tertimpa cahaya.... Tapi tiba-tiba kurasakan sesuatu seperti aliran listrik
menyengat pusat kesadaranku, mataku terbuka mendadak dan bayangan
bidadari-bidadariku lenyap tanpa bekas. Kurasakan
badanku tak lagi seringan kapas dan rasa pegal di sekujur badan membuatku
seperti seonggok besi besar dan berat yang sudah karatan di atas ranjang.
Aku
terjaga, telepon genggam di meja berbunyi nyaring bergetar-getar. Dengan malas
dan menggerutu kuangkat benda yang telah membuyarkan semua bidadari dan peri
impianku ini. Kulihat sebuah nomor tak dikenal muncul di tampilan layar berwarna
biru menyala-nyala.
“Halo....,”
suaraku terdengar parau, sejenak hening beberapa saat sebelum terdengar suara
perempuan menyapa.
“Selamat malam, maaf boleh kita ngobrol
malam ini?”
“Oh, maaf ini siapa ya?”
“Bella.”
“Bella siapa ya?”
“Kamu siapa?” perempuan itu balik
bertanya.
“Eee.. panggil saja Don” aku agak
tergagap menjawabnya.
“Oke
Don, aku hanya ingin bercerita banyak denganmu malam ini”
“Tapi
maaf aku belum pernah mengenalmu Bella...”
“Aku
juga sama sekali tak mengenalmu Don”
“Oh,
tapi dari mana kamu tahu nomor ini?”
“Aku
hanya asal saja menekan nomor dan kebetulan saja ini nomor milikmu” perempuan
bernama Bella ini menjawab dengan enteng.
Dalam
hati aku mulai menggerutu, dengan enaknya perempuan iseng ini menelpon dan
membangunkanku dari mimpi indah bersama bidadari dan peri cantik, benar-benar
sial. Aku mulai berpikir untuk tidak melayani perempuan iseng ini dan segera
menutup telepon agar aku bisa kembali lelap untuk menemui para peri dan
bidadariku. Kasihan, mereka pasti sudah menungguku sekarang ini.
“Oke
deh Bella mungkin kamu bisa menghubungi nomor lain saja aku ngantuk” jawabku
sekenanya.
“Don,
tunggu...”
“Apa
lagi?”
“Don,
aku.. aku hamil...” suara itu mendadak menjadi lirih.
Sejenak
aku kaget dan terhenyak beberapa saat.
“Hamil?”
Aku tertegun.
“Aku
dalam masalah berat, aku hamil tanpa suami.”
“Oooh...kenapa kamu cerita padaku?”
“Karena aku tak mengenalmu.”
Mendadak rasa kantukku yang begitu hebat
hilang sama sekali, berganti rasa penasaran terhadap perempuan misterius yang
bernama Bella ini. Aku sama sekali tak pernah membayangkan sebelumnya,
terbangun tengah malam dan menerima telepon nyasar dari perempuan yang tidak
kukenal sama sekali dan dengan tiba-tiba pula dia menceritakan masalah
pribadinya tanpa basa-basi.
“Sudah berapa bulan kehamilanmu?” Aku
coba bertanya.
“Satu setengah bulan.”
“Lantas apa rencanamu sekarang?”
“Aku sudah minta pertanggungjawaban
laki-laki itu, tapi dia sama sekali tidak peduli bahkan keluarganya mengusirku, aku sangat-sangat kecewa.”
Kemudian dia bercerita tentang
hubungannya dengan laki-laki itu. Perkenalan mereka diawali di sebuah klab
malam. Laki-laki itu begitu hangat dan memesonanya, dia sendiri bercerita
padaku bahwa dia pernah tidur dengan beberapa lelaki sebelumnya, bahkan pernah
menjadi simpanan om-om yang doyan daun muda. Entah kenapa dia begitu terpikat
dengan laki-laki yang ternyata masih anak kuliahan dan sanggup membuatnya tidak
lagi tidur dengan laki-laki lain bahkan om-om kaya raya sekalipun.
“Kau
mencintainya?”
Aku
mendengarnya menghela nafas panjang, seolah beban yang ada di dadanya sekarang
ini sangat-sangat menyesakkan.
“Hhhh
dulu... tapi sekarang aku tak tahu lagi...” suaranya pelan dan tertangkap sebuah
kegalauan dalam nada yang lirih dan putus asa.
“Bagaimana
dengan orang tuamu?”
“Mamaku
sedang sakit, sakit parah, aku tak ingin mamaku tambah sakit karena aku hamil
begini”
“Papamu?”
“Papaku
tidak akan menerima aku!” Nada suaranya mulai meninggi.
“Oooh....”
aku seperti kehilangan kata-kata entah iba atau terkesima mendengarnya.
“Aku tak akan pulang ke orang tuaku lagi!” Suaranya bergetar menahan marah dan tangis.
“Kenapa?”
“Aku
benci mereka...” kini suaranya datar tanpa emosi.
“Benci?”
Aku semakin penasaran.
“Mereka
membunuh adikku.”
“Membunuh?”
Aku semakin
terkejut.
“Waktu itu, adikku hamil tiga bulan”
Kemudian dia menceritakan betapa marah orang tuanya
tehadap adiknya yang waktu itu masih sekolah di bangku smu. Dengan terbata-bata
dia mencoba mengingat kenangan pahit itu. Aku mendengarnya kata demi kata
seolah sedang menyimak sebuah pementasan monolog yang begitu getir. Suaranya
bergetar menceritakan penderitaan adiknya ketika dipaksa menggugurkan kandungan
oleh orang tuannya.
“Mereka memberikan arak cina yang sangat keras, adikku
dipaksa meminumnya.... dan bayi itu lahir dengan panjang hanya 15 sentimeter.”
terdengar sedikit isak tangis pedih di jeda kata-katanya.
Aku semakin hanyut dalam drama yang begitu mencekam dan
menyedihkan.
“Kemudian nyawa adikku tidak tertolong lagi, sejak itu
aku tak mau pulang ke rumah... aku benci mereka.”
Sejenak suasana hening setelah dia mengakhiri cerita
sedih tentang adiknya. Malang sekali perempuan-perempuan ini. Mungkin
di tayangan sinetron kita sudah biasa menyantap suguhan cerita-cerita pilu
seperti ini. Sekarang aku merasakan cerita ini begitu dekat dan seolah sangat
nyata hadir di depanku.
“Sekarang kamu dimana Bella?”
“Aku sekarang ada di hotel di kota
kelahiran laki-laki yang menghamiliku”
“Apa yang kamu lakukan di
sana?”
Kemudian dia kembali
bercerita kalau semua ini dia lakukan agar laki-laki itu mau bertanggung jawab.
Dengan uang pas-pasan dia menyusul laki-laki itu yang mendadak menghilang
setelah mendengar kehamilannya. Laki-laki itu pulang ke kota kelahirannya
dimana seluruh keluarganya tinggal.
“Tapi di sini aku
benar-benar dikecewakan, mereka semua menolakku,” dia terdengar pasrah. “Biarlah
kalau dia memang tak mau bertanggung jawab aku akan pergi kemanapun aku suka,
dimana aku bisa membesarkan anakku.”
“Terus kamu mau makan apa?
Apa kamu punya pekerjaan?”
“Tidak aku tidak punya pekerjaan apa pun, sampai detik
ini uangku tinggal lima
puluh ribu tidak cukup untuk ongkos pulang, mungkin hp ku akan kujual setelah
selesai menelponmu.”
“Laki-laki itu bagaimana?”
“Dia hanya menaruhku di hotel ini dan meninggalkanku
tanpa memberiku makan, tanpa menjengukku sekalipun... aku tak tahu harus
bagaimana lagi.”
“Setelah
ini kamu mau pergi kemana?”
“Aku
masih punya teman di kota lain aku akan ke sana mungkin dia bisa menolongku.”
“Jika
temanmu itu tak bisa menolongmu?”
“Aku
akan menjual diriku pada laki-laki yang mau mengasihaniku.”
“Oooh..”
Aku kembali tak bisa berkata-kata.
“Biarlah
dosa ini aku tanggung sendiri dan demi anakku nanti aku akan bertahan.”
“Oooh..”
Aku benar-bernar tak tahu harus bicara apa.
Mendadak
hubungan telepon terputus, beberapa saat kutunggu ternyata dia tak menelponku
lagi. Aku terdiam pikiranku menerawang kosong. Kumain-mainkan hp dalam
genggamanku hingga akhirnya aku memutuskan untuk menelpon balik. Kuhubungi
nomornya yang masih terekam di hp , beberapa kali kuhubungi ternyata nomor yang
kutuju sudah tidak aktif lagi. Kuletakkan hp di atas meja dan kembali pikiranku
menerawang mengingat pembicaraan telepon dengan perempuan yang bernama Bella
beberapa saat yang lalu.
Menit demi menit berlalu hingga akhirnya rasa kantuk menyergapku untuk
menikmati kembali hangatnya kasur, bantal dan ranjang yang empuk. Bidadari dan
peri cantik kembali membayang dalam kantukku. Lambat laun aku terlelap dan
merasakan badanku seringan kapas mengikuti angin. Pasti ini saatnya untuk
kembali bertemu dengan bidadari dan peri cantik dalam lelap mimpiku. Samar-samar
aku mulai melihat sosok bidadari-bidadari itu, makin lama makin jelas aku
melihatnya. Ketika tubuhku melayang mendekat tiba-tiba jantungku seperti
berhenti berdetak. Kulihat dua bidadari berambut panjang dengan muka yang
pucat. Mata mereka kosong, bibir mereka tak lagi tersenyum. Bidadari itu
memegangi perutnya yang membuncit seperti sedang hamil tua sedangkankan bidadari
di sebelahnya menimang orok kecil tak bernyawa berlumuran darah dengan panjang
tak lebih dari 15 sentimeter, darah menetes membasahi paha hingga betisnya. Lagi-lagi aku hanya terpaku tak mampu bicara apa-apa.[..]
Recent Comments